Nostalgia? It’s all bout money

Nostalgia for sale and Nostalgia for marketing

As far as I know, life is full of celebration, anniversary, party, and many ways of thanking everyone who contributed during the years of life. It is a myth not only for everyone, but give thank to something in the past has to do with our emotions and certain feelings. Certainly, it cost much money for the present.

I believe that people put certain feelings and attachment to a brand because of how they were exposed to it when they were children. Afterwards, 90’s generation is the most favorable generation in these days. I was born in 1988, I have been in 90s generation, it has been there and done that such as watching Doraemon every Sunday morning at 8 o’clock, I never knew and held cellphone, and even I did not know what it was like. Nintendo and Sega were the console I had when I was little. That made me could not be happier. I invited all my friends to play Fifa 96 or so on, Sonic, and whatever games I owned in my house. It is hard referring time in the past and compare those who never felt that way. I had a very expensive music console named Walkman. When you walked down the street and headphone was on your head, everything was cool. You would be the center of attention. I did this.

My family used certain soap, shampoo, eat particular food with low class brand when I was a child; most likely I will use the same brand when you will have your own family. Kind of tradition to celebrate nostalgia and how the brand is packaged for marketing and it is marketable.

Jakarta as the center of popular culture and attention of other people has started to use nostalgia marketing which is reflected in the use of billboard ads with young people portrayed in retro style. There are also many events labeled 90s generation mushroomed in Jakarta and many of the audience are teenagers. It seems to me that teenagers lead to purchase a product and they are powerful in attending the event of nostalgia.

Childhood seems magical. We eat, play, sleep, and repeat without any turbulence. It was the time we still believe in and wait for Eid Mubarak, we stand in line to get white envelope and we can be ourselves with our family.

One most marketable thing in Jakarta is Love. For those who had miserable in love, at the same time, the happiest, a time of crushes and lost loves. People feel strongly about their teenage years and nostalgia for marketing of love is possible to target more than one generation. It gives a good way to bridge the age gap.

Nostalgic feelings related to positive emotions such as beauty, pleasure, satisfaction, happiness, and love’. Nostalgic marketing helps people cope with life’s difficulties and therefore improves customer well being. Time passes quickly and we thus have a need to capture the past. Innovative companies help us to bring back our happy memories, Indonesian style.

Self Reflective Journey: “Setelah 24 tahun ini saya baru tahu Saya orang Padang” Muhammad Fakhran al Ramadhan

Tugas ini kembali dibuat karena kurangnya mendalami keragaman dalam diri saya sendiri. Semoga penulisan berikut yang kedua bisa lebih mendalam dan lebih kritis atas perjalanan diri saya ini.

 

“Namanya siapa?”

“Muhammad Fakhran al Ramadhan”

“Oh, orang Arab yah atau ada keturunan Aceh?”

“Tidak”

“Lalu orang mana?”

“Saya orang Indonesia”

Tapi dari mana asal anda?

“Ayah saya dari sukabumi dan ibu saya betawi asli dan keduanya lahir di Jakarta dan saya pun lahir di jakarta”

“Tapi apa kamu bisa bahasa Sunda?”

“Tidak”

“Apakah kamu punya petak-petakan kontrakan di Jakarta?”

“Tidak”

Perjalanan budaya saya akan bermulai dari sebuah percakapan diatas yang saya juga yakin pasti tidak hanya orang indonesa yang mengalami peristiwa tersebut, tetapi di seluruh dunia juga merasakannya. Orang lain menanyakan dari mana kita berasal, lebih spesifik lagi ya tentang suku dan ras kita. Beberapa orang yang tahu dari mana mereka berasal pasti akan bangga dengan menyebutkan, saya orang batak, saya orang padang, saya orang jawa, saya orang bugis dan lain-lain, tetapi untuk saya, semua itu akan berubah dan saya punya ceritanya sendiri.

Saya anak pertama dari 5 bersaudara. Ayah saya dulu bekerja sebagai pegawai di salah satu perusahaan Amerika di jakarta dalam urusan antar mengantar barang yang dinamakan AMEX (American Express yang tidak tahu apakah perusahaan tersebut masih ada di jakarta) dan sekarang memiliki usaha yang bergerak di bidang Atap Baja Ringan lalu ibu saya yang dulu pernah bekerja di sebuah kantor swasta, sekarang menjadi ibu rumah tangga. Kami semua orang Islam. Ayah saya selalu menerapkan syariat Islam di dalam berkeluarga dan bermasyarakat. Contohnya adik saya yang masih kecil diharuskan untuk sholat dan apabila tidak sholat, maka akan dipukul lah pantatnya. Untuk laki-laki wajib hukumnya untuk sholat di mesjid dan selalu hormat dan sayang pada siapapun. Bapak saya selalu mengingatkan untuk sholat berjamaah dan utamakan sholat di tepat waktu. Ikatan agama di keluarga saya sangat kuat dan juga menerapkan untuk memakai kerudung untuk adik saya yang perempuan dari kecil.

Di dalam berkeluarga saya tidak ada hubungannya dengan budaya yang dominan dari segi bahasa maupun tradisi lainnya yang dipertahankan.

Tulisan ini akan saya buat dengan lebih serius dan pertanyaan itupun terjawab juga antara saya dengan ayah saya. Siapakah saya?berangkat dari pertanyaan sederhana itu. Lalu siapakah leluhur saya?. Cerita panjang lebar ayah saya, bude dari ibu saya dan nenek dari ayah saya membuat saya sedikit lupa akan stereotip yang selalu mengganjal dalam diri saya ketika ditanya, “asalnya dari mana?”. Cerita nenek dari ayah saya, bude dari ibu saya dan ayah saya membuat saya merasakan perjalanan panjang guna menyelami siapa saya sebenarnya saya sebagai orang sukabumi atau orang padang atau orang aceh atau orang betawi yang mengalir di dalam darah saya ini.

Ayah saya itu merupakan orang keturunan padang dan kebumen, sedangkan ibu saya keturunan aceh dan cirebon. Ayah saya lahir di Jakarta dan pernah menghabiskan masa kecilnya di Belanda selama 3 tahun dan Australia 2 tahun. Ibu saya lahir di jakarta dan dan menghabiskan waktunya di jakarta, walaupun sekarang tinggal di daerah perbatasan antara Jakarta dan Bekasi dengan ayah saya.

Ayah saya itu anak ke-empat dari tujuh bersaudara. Kakaknya dia yang ketiga meninggal akibat kecelakaan motor sewaktu SMA. Kakek saya seorang tehnisi di perusahaan pesawat terbang, Fokker, dan pernah ditugaskan untuk berpindah ke Belanda 3 tahun dan Australia 2 tahun, semua keluarga di ajak kesana, menetap disana, berinteraksi disana, sekolah disana dan melakukan segala aktifitas sosial disana. Ayah saya mengetahui tentang musik, skateboard, motor ya semua saat dia tinggal di luar negeri semasa kecilnya. Saya yakin saat jaman saya masih bersekolah, kegiatan yang saya lakukan semacam berseni dan bersosial juga dipengaruhi oleh ayah saya ini. Sewaktu ayah saya bercerita, semenjak kecil saya selalu di nina bobok an dengan lagu anak-anak. Saya juga menemukan fakta dengan adanya sebuah foto kalau bapak saya juga anak band. Beliau sangat menyukai musik slowrock. Dia menyukai Deep Purple, Rush dan yang paling fenomenal adalah AC/DC. Saya terkejut mengetahui selera musik ayah saya ternyata rock yang dipilih. Jakarta mengenalkan saya pada musik punk dan sewaktu saya mewawancarai nenek saya, selera kami tidaklah jauh berbeda antara punk dan rock. Nenek saya juga bercerita kalau ayah saya ini sangat update dalam masalah pergaulan, sebelum saya mewawancarai nenek saya, saya menceritakan kalu saya suka bermain skateboard, ternyata hal itu juga dilakukan oleh ayah saya semenjak remaja. Lucunya dunia ini.

Ayah saya diberi nama Sonny Amirza dikarenakan kakek saya saat itu pergi ke Amerika untuk dinas disana selama satu tahun. Saat memasuki masa SMA, ayah saya bersekolah di sekolah Kristen PSKD lalu melanjutkan studinya di Universitas Kristen Indonesia jurusan Ekonomi Akutansi disana. Kehidupan ayah saya mungkin terbilang jauh dari syariat agama Islam dan hidup diatas kemewahan. Keluarga ayah saya pernah memiliki bengkel motor yang dikepalai kakek saya tetapi tetap anak-anak nya lah yang pria yang menjalani keseharian bengkel tersebut. Kakek saya hanya sebagai pemantau. Bengkel tersebut harus tutup karena om saya, atau kakak ayah saya yang bernama Agus Zudisa meninggal lantaran balapan motor yang berhasil dirakit oleh kakak-kakak ayah saya termasuk ayah saya juga. Agar ilmu permesianan tersebut jalan, maka kakek saya hanya mengajari yang kecil-kecil tentang perlistrikan yang ada di rumah, dan tidak lagi dugunakan untuk urusan balap-balapan motor. Jadi saat itu ayah saya mendapatkan 2 pendidikan dari rumah dan perkuliahannya. Tehnik permeseinan dan tehnik berhitung ala akuntan.

Saya baru mengetahui kalau nenek saya itu orang padang, lahir di padang di daerah Alang Laweh dan bertempat tinggal di rumah gadang (yang orang bilang tinggal di Rumah Gadang dan memilikinya merupakan masyarakat kelas atas) dan bernama Siti Maryana Binti Bandaro Siti. Kalau kakek saya bernama Raden Mas Sudargo bin Harjo Supadmo dan kata nenek saya, kakek saya itu keturunan ningrat. Mereka berdua terbiasa dengan kehidupan kelas atas dan tidak pernah merasakan kesusahan apapun semasa muda hingg saat mereka menikah.

Dari sejarah kakek dan nenek saya, masalah pendidikan tidak bisa dianggap enteng. Mereka semua harus pintar agar tidak memalukan keturunan mereka nanti. Keluarga besar kakek dan nenek saya ini cukup dipandang dimata masyarakat. Nenek saya bercerita kalau beliau menyuruh kakek saya untuk membuka usaha bengkel motor untuk melanjutkan warisan budaya padang sebagai pedagang. Lalu kenapa bengkel, bukan makanan atau pakaian, nenek saya pun menambahkan karena kakek mu seorang tehnisi, dan yang beliau bisa hanya masalah permesinan, jadi ya itu alasan nenek saya kenapa dibuka bengkel motor. Hingga saat ini, bukan usaha bengkel lah yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi berjualan. Inilah praktek yang biasa dilakukan oleh orang padang, yaitu dengan berdagang dan hanya Ayah saya saja yang hingga sekarang ini berdagang Atap Baja Ringan setelah memutuskan untuk keluar dari perusahaan pengiriman barang tersebut.

Tradisi berdagang tersebut memang diwarisi oleh orang tua (walaupun kakek saya orang jawa ningrat dan nenek saya orang asli padang) kepada anak laki-lakinya. Walaupun dari empat anak laki-lakinya, hanya ayah saya saja yang tetap mempertahankan bedagang.

Menurut cerita nenek saya, boleh orang padang yang laki-laki menikah dengan yang non-padang. Nenek saya pun menikah dengan orang jawa. Tetapi dalam permasalahan kelas, kakek dan nenek saya berasal dari kalangan masyarakat kelas atas walaupun berbeda secara kesukuan.

Ayah dari nenek saya saat itu bekerja sebagai kepala daerah di Alonglawe, Padang dan saat itu masyarakat di padang sudah mengenal nenek saya karena ayahnya adalah kepala desa. Sama halnya dengan yang dirasakan oleh kakek saya. Ayahnya bekerja sebagai kepala tehnisi di sebuah kapal saat itu. Kakek dan nenek saya bertemu saat mereka bekerja di Fokker. Nenek saya sebagai pramugari dan kakek saya sebagai tehnisi disana dan akhirnya mereka menikah. Mereka berdua tetap menjalani pernikahan sampai nenek saya berhenti menjadi pramugari saat mereka dikaruniai seorang anak dan membiarkan kakek saya saja yang bekerja. Mereka menikah di padang dan tinggal di padang selama satu tahun (kakek saya saat itu sedang mendapatkan tugas di Padang) lalu pindah ke Jakarta dan dikaruniai seorang anak. Tidak ada ketegangan sama sekali saat orang padang menikah dengan orang Jawa. Nenek saya merupakan anak terakhir di keluarganya dan kakek saya anak ketiga dari lima bersaudara dan sama sekali tidak ada permasalahan. Walaupun ayah dari nenek saya seorang kepala daerah, mereka tidak terlalu mengikuti budaya padang, begitupula dengan ayah dari kakek saya yang orang ningrat, sama sekali tidak mengikuti budaya Jawa sepenuhnya.

Silsilah keluarga dari ibu saya juga terbilang agak rumit. Kakek berasal dari Longa, Aceh yang bernama Marngat Sengut lalu nenek yang berasal dari Cirebon yang bernama Nining Fatma, di daerah pantai utara yang memiliki jawa kasar.

Kakek saya lahir di Aceh dan kemudian pindah ke Jakarta dengan alasan yang sama yaitu pekerjaan. Kakek saya sama pekerjaannya seperti ayah dari bapak saya, seorang tehnisi di Garuda. Nenek saya adalah seorang pedagang dan beliau pindah ke Jakarta karena diajak oleh pakde nya kesana untuk menetap. Tidak tahu bagaimana orang Aceh bertemu dengan orang Cirebon di jakarta. Ayah dari kakek saya bernama Sengut yang asli aceh dan menikah dengan orang Kebumen yang bernama Marsinah dan ayah dari nenek saya asli cirebon yang bernama Sastrowardoyo dan menikah pula dengan wanita asal cirebon keturunan bangsawan yang bernama Nyimas Emoh atau dipanggil Mbah Emoh. Kakek dan nenek saya tinggal di Jakarta, tepatnya di daerah Cempaka Putih. Tidak ada perjodohan saat itu dan tidak pula ada ketegangan diantara pernikahan antar orang aceh dan orang cirebon.

Di Cempaka putih itulah ibu saya lahir dan besar. Ibu saya anak terakhir dari empat bersaudara. Kakek saya yang berasal dari aceh ini memiliki watak yang keras di dalam hal pendidikan dan wanita. Prestasi di sekolah harus diutamakan dan wanita harus lebih pintar. Nita avianty, Ria Febbyriana, Avianto Marngat dan terakhir ibu saya, Marry Bahagiany. Kata bude saya, nama Marry Bahagiany diambil saat kakek dan nenek saya mendapatkan rumah baru yang juga di daerah Cempaka putih dimana sebelumnya mereka masih tinggal di rumah kontrakan. Sikap yang keras terhadap pendidikan inilah yang selalu dipakai ibu saya hingga saat ini.

Sikap protektif terhadap tiga anak perempuannya sangat diberlakukan di dalam kehidupan kakek saya ketika bude saya yang bernama Nita beranjak dewasa dan berpacaran. Saat ayah saya melamar ibu saya, mereka berdua masih berstatus mahasiswa akuntansi di UKI dan ayah saya sudah bekerja duluan di American Express dan tidak menemukan kendala sama sekali. Kakek saya percaya bahwa orang padang bisa survive tinggal di Jakarta dengan berdagang walaupun saat itu ayah saya masih berstatus sebagai pegawai di perusahaan tersebut. Tidak ada kekhawatiran di dalamnya.

Kedua kakek dan nenek saya sudah tinggal di jakarta. Ayah saya bercerita pada saat dia melamar ibu saya, sama sekali tidak mau memberatkan orang tua. Orang tua tidak membantu sepeserpun untuk masalah pernikahan mereka sehingga pesta yang disajikan sangatlah sederhana tidak bermewah mewahan selayaknya orang padang, orang aceh yang sangat mewah dan mengikuti adat-istiadat budaya. Saat itu tahun 1987 dimana saat ibu saya wisuda, ibu saya sudah mengandung saya dan mereka diwisuda bersama-sama. Lalu mereka berdua hidup dan tinggal di daerah kali malang dan mengontrak saat itupula saya dilahirkan. Pemilihan nama Muhammad Fakhran al Ramadhan itu diberikan oleh kakek dari ibu saya sebelum beliau meninggal. Ketika itu kakek saya berpesan sebelum meninggal agar selalu menjalankan perintah islam dan berilah nama yang bagus-bagus pada anakmu suatu nanti. Padang dan aceh yang kental dengan ke-islamannya lah yang membuat nama saya seperti itu. Saya tidak akrab dengan budaya padang ataupun aceh saat kecil. 24 tahun pula saya tidak tahu menahu darimana saya berasal. Saya, saat itu, menyimpulkan diri saya adalah percampuran orang betawi dan sunda. Saat itu ibu saya bercerita kalau dia tinggal di jakarta yang notabene nya adalah masyarakat betawi dan ayah saya yang selalu mengajak saya ke sukabumi untuk bertemu dengan sanak saudara setiap lebaran.  Setelah saya mewawancarai nenek saya, bude saya dan ayah saya, saya baru mengetahui kalau darah saya adalah orang berdarah sumatra, entah Aceh atau Padang.

Keragaman suku dan bangsa di indonesia membuat orang mempertanyakan keotentikannya. Sangat disayangkan ketika otentik atau tidaknya sebuah budaya dinilai dari stereotip yang hadir di masyarakat.

Kenapa saat itu saya bisa mengaggap diri saya orang sunda atau orang betawi. Saat saya kecil, orang tua pindah dari jakarta ke bekasi. Tepatnya di Pondok gede yang merupakan daerah perbatasan antara propinsi Jawa barat dan DKI Jakarta. Di sekolah saya mempelajari pelajaran Atikan Berbasa Sunda. Saya tidak tertarik sama sekali pelajaran itu. Tidak ada ketertarikanuntuk mempelajari pelajaran berbahasa sunda. Saya bersekolah di SD negeri dimana masyarakatnya sangat beragam. Itu terbilang SD untuk kalangan bawah karena terletak di kampung-kampung. Lalu pas kelas 6 SD orang tua memutuskan untuk pindah ke sekolah yang berada di Jakarta agar nanti mendapatkan SMP yang bagus. Bersekolah SD di jakarta, saya menemukan pelajaran PLKJ, pendidikan lingkungan kehidupan Jakarta. Sama halnya dengan bahasa sunda, saya sangat tidak tertarik untuk mempelajarinya. Hal-hal yang ada di buku PLKJ tidak terjadi di dalam kehidupan sebenarnya atau secara tidak langsung, adat-adat betawi di Jakarta tidak pernah saya rasakan langsung di dalam kehidupan saya.

Saya memiliki saudara yang dulunya berprofesi sebagai guru SD yang mengajarkan bahasa Sunda dengan lemah lembut, namanya om Asep. Beliau mengajar dengan cara beliau dengan bahasa sunda yang sangat kental padahal dia adalah orang betawi asli dan dia mempelajari bahasa sunda karena sekelilingnya kebanyakan orang sunda. Secara tidak langsung,  bahasa sunda pun masuk ke dalam hari-hari om saya lalu bisa menjadikan dirinya sebuah profesi dan menghasilkan uang.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya pun mampu melihat fenomena-fenomena sosial di dalam keseharian saya. Apalagi perbedaan antara kehidupan di Bekasi yang berbatasan dengan Jakarta. Bahasa sunda versus bahasa betawi. Ya saat saya bersekolah di Jakarta dan kebanyakan teman saya berasal dari asli jakarta dan kebanyakan mereka menggunakan bahasa betawi yang medog, bahasa yang saya gunakanpun ikut terpengaruh betawi. Karena saya pikir saat itu saya hanya memiliki pengetahuan yang sedikit tentang budaya saya sendiri yang ada di rumah.

Setelah saya memasuki SMA, keragamanpun tambah dimunculkan saat itu. Teman dari luar daerah di jakarta, Manado, Batak, Makassar dan lain-lain hadir dan memperkenalkan kebiasaan mereka di sekolah. Keberagaman tempat saya tinggal, yaitu di bekasi dimana bekasi juga merupakan kota dengan mayoritas penduduk pendatang dan keberagaman kepentingan yang masuk ke dalam pewarisan budaya saya tambah saya bingung darimana saya berasal.

Sayapun tidak dibesarkan dalam budaya kesukuan yang kuat di dalam keluarga saya. Jika memang ada yang mungkin bisa dikatakan yaitu hanya Jakarta. Ayah saya ajarkan pada saya adalah berdagang dan mencoba untuk mewariskan ‘berdagang’ ke saya dengan ikut membantu ayah saya berjualan dan belajar berjualan.

Dari nama Muhammad Fakhran al Ramadhan memiliki arti ‘kemegahan nabi muhammad di bulan ramadhan’ ibu saya memiliki sifat ingin berbeda dari yang lain dan selalu menonjol. Biasanya kita sering mendengar dan melihat nama Farhan, Farah, Fahran, kenapa fakhran? Ya karena ingin berbeda dari yang sudah ada dan ya Fakhran itu berarti kemegahan.

What’s the matter with society these days?

Hal ini baru gua rasakan saat gua dikritik oleh seseorang. Ngapain sih jadi pengajar, jadi guru dan dosen?, kan gajinya gak seberapa. Emang profesi itu bisa bikin anak dan keluarga lu hidup? Di jaman kaya begini mah mana bisa? Minimal lu setiap bulan harus menghasilkan diatas 10 juta. Ngapain lu kuliah lama-lama tapi penghasilan lu gak seberapa? Kenapa gak kerja di tempat yang bisa menghasilkan lebih dari 10 juta? Kenapa gak mendirikan tempat les bahasa Inggris?

Hal pertama, kenapa gua memilih mengajar sebagai profesi utama gua?

Saat kuliah S1 selesai, ada institusi pendidikan yang menawarkan saya menjadi guru. Memang pada saat itu dasar mengajar saya hanya berdasarkan pengalaman saat saya masih di bangku sekolah dan ditambah pengalaman saat saya masih suka MC di kampus. Apalagi saat itu saya hanya menggantikan guru yang sedang pergi ke Mekkah selama 2 bulan. selama 2 bulan itu, saya mengajar dan merasakan sebuah karma yang indah. Saat kuliah, saya berjanji pada diri saya untuk tidak ingin menjadi pengajar. Tetapi semua itu berubah. Saya, saat itu, nyaman dengan keberadaan sekolah dan gaji yang cukup besar bagi lulusan S1 saat itu. Intinya, pada tahun itu, saya bisa berkurban. Sepulangnya guru dari Mekkah, saya merasakan 2 bulan yang indah. bisa memberikan materi pembelajaran yang saya rasa cukup baik kepada anak murid kelas 3,4,5 SD. saya merasakan bahwa saya pernah di posisi mereka. Pengalaman mengajar saya cukup banyak. Saya hampir pernah mengajar di seluruh level sekolah dan kampus. Alhamdulillah. Saya pernah menjadi guru SD, SMP, SMA dan KPerkuliahan. Sekolah yang saya datangi pun juga bukan sekolah yang jelek. Al Azhar dan Labskul adalah salah dua dari institusi yang cukup terkenal di Seluruh Indonesia dan Jakarta. Gaji yang saya dapatkan juga tidak sedikit. Alhamdulillah pembuktian dari mengajar saya ini bisa menghasilkan Kawasaki Ninja RR 150. Sebuah tunggangan idaman semasa saya masih di bangku sekolah dasar.

Alhamdulillah, saya bisa melanjutkan pendidikan saya di Kampus Universitas Indonesia. Universitas Negeri Jakarta sangat jauh berbeda dengan Universitas Indonesia. Sebuah perbedaan yang sangat mencolok, dari lawan jenis, fasilitas, suasana. Saya pernah berpikir, bagaimana kalau S1 saya dulu di UI. Mungkin rejeki saya akan berbeda seperti sekarang. Merasakan perkuliahan S2 tidaklah semudah S1. Anda bisa play truant tanpa menghiraukan apa kata dosen dan mata kuliah yang diampuhnya. Tidak peduli. Di S2, semua mahasiswa dituntut untuk berpikir kritis dan teoritis. Semua berdasarkan referensi yang reliable.

Kurang lebih, selama saya mengajar 3 tahun lamanya, saya banyak menerima kritik dan pujian dari beberapa orang yang kenal dengan saya. Mungkin bagi mereka yang tidak memilih profesi sebagai pengajar, tidak pernah merasakan bagaimana indahnya masa sekolah mereka. Sebagian orang berpikir bahwa mengajar itu tidak enak, sebagaian berpikir bahwa mengajar itu mengasikan. Saya tidak bisa menyalahkan apa yang ada di dalam pikiran mereka. Semua pemikiran itu berdasarkan dari asumsi imitasi yang terbuat di masyarakat.

Idealisme adalah sistem terindah di masa muda. Orang yang berpegang teguh pada idealismenya akan tetap hidup dan berkecukupan. Semua dan hampir di sleuruh profesi di kota besar menuntut kita untuk menjadi orang kaya. Ya memang semua orang harus kaya. Rejeki orang berbeda-beda. Saya yakin saya bisa mempertahankan idealisme mengajar saya yang dipandang sebelah mata sampai saya mati nanti. Hidup berkecukupan dan bermanfaat menjadi sebuah modal saya untuk merasakan yang namanya’hidup’.

Silent is the best way to reply the fool. keep on the right track with your own idealism and you gotta find a real life by teaching. Just do what you love and let the haters talk you behind. You live your own live no matter what they say. What they just can do only giving a comment that you should do this and leave this one which is better for your live. Hello. Come on, grow up, asshole. I never asked you for something and you just give me a fucking courage like this. You can start a revolution by teaching for sure. Everything is meant be changed. You can change a life and someone’s.and even everyone’s. What’s the matter with society these days?. it won stop and I believe it wont be stopped. It keeps designing by society, there will always something bad for a good people. Sorry for this rude. I am just human and I pour this writing as a refusal form to the dominant culture’s way of thinking. thanks a lot, society for making me strong like this.

Kampus apa Perusahaan peminjaman kredit?

Agak aneh kampus yang ada di Depok itu. Kita sebut saja ‘mawar’. Mawar memberikan janji masa depan yang cerah, yang dimulai dari dosen, fasilitas, dan isinya yang menawarkan keindahan. Semua orang dari seluruh Indonesia berusaha, bersaing untuk menempati kursi di kampus mawar tersebut. Bayaran yang diberikan untuk individu yang ‘hoki’ ini diberikan dengan harga yang mahal. Untuk S2 nya saja, dibutuhkan dana sebesar Rp 8.ooo.ooo. cukup mahal bukan?

apa yang S2 hanya untuk yang kaya saja? apa yang s2 hanya diambil untuk orang yang berprofesi menjadi dosen? bagaimana kalau S2 ini untuk mereka yang bekerja di media, perusahaan yang tidak memerlukan gelar tinggi.

Sebenarnya itu kampus, atau apa sih? kampus mawar memberikan denda bagi mahasiswa yang terlambat membayar iuran per semester. 25 % jika lewat dari batas. Memberikan kemudahan tetapi sulit melepaskan di akhir. Seseorang mahasiswa dinyatakan lulus dan belum menyelesaikan masalah keuangan, tidak diberikan Ijasah dan dipersulit. Bahkan dihina. kampus apa itu? Kenapa kampus di Indonesia tidak gratis seperti sekolah negeri di Indonesia dan mungkin universitas di Luar Indonesia. Pendidikan Gratis. Itu kampus atau perusahaan kredit yang memberikan bungan pada pelanggan atau klien yang tidak bisa memenuhi pembayaran? sangat disayangkan.

yang saya fokuskan disini adalah masalah pembayaran yang di lakukan oleh institusi pendidikan yang sama dengan perusahaan jasa kredit. Bagaimana kalau kampus tersebut memiliki Debt collector. Mungkin akan banyak mahasiswa yang lebih memilih untuk bunuh diri karena tidak bisa memenuhi cicilan, banyak oarang yang tidak ingin berusaha untuk masuk kampus idaman tersebut. sangat tidak memanusiakan manusia di dalam institusi untuk mengembangkan sumber daya manusia di masa depan nanti.

hal ini memang benar dirasakan oleh hampir seluruh mahasiswa di kampus mawar tersebut. Bersyukur jika orang tua atau institusi yang berjanji memberikan pembayaran penuh setiap semester untuk melunasi setiap semester. Bagi yang tidak bisa melunasi, yk kita bom rektorat kampus mawar itu. kita bunuh rektor dan segala kebijakan yang ada.

Because You’re Young – Cock Sparrer

Because you’re young, sharp as a knife
You need that buzz to come alive
Out on the edge, out on the town
You ain’t got time to settle down
You’re always sure, you’re always right
You see it all in black and white
You never listen to anyone
Because you’re young

Because you’re young, you’re torn between
A world of hate and a world of dreams
So much to lose, so much to gain
So much to fight for, so much to change
You don’t look back, you don’t look down
You gotta turn everything around
You live your life like a loaded gun
Because you’re young

Stop talking back, get off the phone
You’re late again, you missed the last bus home
This ain’t the way you wanna live
I know something’s got to give
You’re always sure, you’re always right
You see it all in black and white
You never listen to anyone
Because you’re young

Punk and Politics are totally different.

I learned politics not from School. I learn politics from Punk. (Billie Joe Amstrong, Green Day, 30 years of punk rock the movie).

I hate politic. This means killing each other to conquer the weak people in any other ways, whatever it is, you gotta win. Ya mungkin ini arti politik dari segala pengertian ilmiah lain mengenai politik dari seorang yang bernama Fakhran.

kenapa gua mencoba menggabungkan politik dan Punk? Punk di awal yang lahir di Inggris memang berarti pemberontakan. Pemberontakan yang melawan pemerintah dan berusaha untuk menciptakan negara sendiri. Tidak menaati peraturan yang ada, tidak mengindahkan politik di dalam setiap negara. Ya memang seperti itu seharusnya menjadi seorang Punk. Punk itu anti politik. Punk itu anti negara, punk anti elit dan segalanya. 

Agak aneh saja menurut saya untuk seorang punk di Indonesia. Negara yang katanya negara demokrasi tetapi khayalan semata. Ya memang itu yang terjadi di Indonesia. Kalau saya bisa memilih, saya mau sekali dan ingin sekali pindah kewarganegaraan di luar negeri, di Inggris. hahahaha. Saya tidak bersyukur tinggal di negeri seperti ini. Politik tai kucing, pencitraan instan. Aneh. Semua disini aneh. Tidak ada budaya yang mengakar dan menjadi simbol kebudayaan Indonesia di mata negara lain. Budaya indonesia selalu dinilai rendah di mata internasional. 

Jika orang Indonesia punya kesempatan untuk pergi ke luar negeri, pasti mereka akan langsung membandingkan dengan Indonesia. Katakan saja dengan budaya tepat waktu di Jepang dan Amerika yang sangat jauh berbeda sekali dengan Indonesia. Kita lihat lagi dengan kebiasaan antri di beberapa negara Eropa, jauh sekali berbeda dengan Indonesia. INdonesia itu Jelek. mungkin itu kesimpulan di Akhir cerita mereka. yang mereka  rindukan dari INdonesia, mungkin makanan, suasana macet, polusi. Semua yang mereka rindukan tidak selamanya Indah.

politik itu mencakup semua urursan di muka bumi. mulai dari kecil kita diajari oleh orang tua kita untuk berpolitik. bagaimana cara kita menghormati orang lain, bagaimana belajar minum, bagaimana cara berjalan di depan orang yang lebih tua. semuaitu berpolitik antara orang tua dan anak. cara agar bagaiaman orang mengikuti apa keinginan kita. jika ditarik dari awal, dari masa anak-anak, dan dibandingkan dengan poltik yang dilakukan oleh pejabat indonesia hampir sama. menurut saya yah. Indonesia berpolitik sama saja menjelek-jelekan, membunuh orang dan selalu melihat latar belakang sebuah individu atau komunitas. dilihat yang jelek-jeleknya saja. cara orang berpikir dan bertindak memang beda. yaaa tapi itu lah indonesia. hahahah.

Jerinx. SID. siapa yang tidak kenal mereka. aneh saja ketika dia mendukung jokowi. Punk tidak memihak. punk menjelek-jelekan dan tidak mendukung. reklamasi tanjung benoa di Bali. alasan itu mungkin masuk akal bagi sebagian masyarakat di Bali, tetapi tidak untuk seorang punk. Semua orang diberikan kebebasan untuk memilih. memilih itu berasal dari dalam lubuk hati. Kampanye yang dilakukan di media sosial cukup menghasilkan suara yang signifikan bagi setiap pendukung capres. dengan media sosial, mungkin secara tak kasat mata, mereka berpolitik dengan berbagai hashtag yang dilakukan. hadaaaahhhh.

semua campur aduk. Hey, kita generasi muda harusnya mengisi pemerintahan dengan keahlian kita. bukan dengan berpolitik seperti yang dilakukan oleh pejabat kita disana. persetan lah.

mungkin coretan tangan ini tidak sesempurna penulis lain. Saya hanya ingin menulis apa yang selalu diberikan oleh media kedalam pikiran saya. Muak saya dengan semua ini.

Tulisan ini dilakukan dan dilancarkan di kosan teman saya dan menggunakan laptop teman saya. terima kasih atas pinjaman laptop dan modem Bolt tersebut.